Senin, 08 Juli 2013

When You Listen It, You Were Tearing

Ok, lega rasanya bisa ngetik lagi.
Kali ini ada satu pertanyaan yang sedikit kepo. "Lagu apa yang bisa membuat kamu menangis?"
Well, tidak semua orang mau menjawabnya, because I know it's their privacy.
Bagi sebagian orang, hal seperti itu mungkin terdengar bodoh & kekanak-kanakan. Tapi bisa saya bilang pernyataan tersebut menunjukkan mereka tak punya "sense of imagination". Dan bagi saya, bisa meresapi makna sebuah sajak itu sangat menyenangkan. Kita bisa ikut merasakan apa yang dirasakan oleh pencipta / penulisnya.
Bicara soal rasa, banyak sekali sajak-sajak ataupun lagu yang dapat kita tangkap makna apa yang terkandung di dalamnya. Tentu saja pembawaan si pembaca / penyanyi yang dapat menjiwai sajak / lagu tersebut sangat berpengaruh besar. Seorang penyanyi yang baik tidak hanya memiliki suara yang bagus, intonasi, scale bermusik, dan bla... bla... bla...... semua tentang teori musik, tetapi dia juga harus bisa menangkap makna lagu itu sendiri. Terkadang kita melihat beberapa penyanyi saat sedang membawakan lagu tertentu, dia menitikkan air mata, atau sekedar berkaca-kaca. That was because they drowned into the song.
Ok, sedikit membocorkan, pernah satu ketika tanpa terduga serasa ada yang mau keluar dari mata saya. Suddenly I was tearing, then I quickly wiped it. Ok, itu cengeng banget. Tapi jika kamu pernah di-dongeng-i tentang "Cici Anak Musang Yang Manja", maka kamu akan mengerti kenapa. Cek nih lagunya :



 Nih, kalau mau pada karaokean :
Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Dalam dekap seorang ibu
Hanya satu pintaku
Tuk bercanda dan tertawa
Di pangkuan seorang ayah
Reff: apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun
Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Di pangkuan ayah dan ibu
Repeat reff
Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Dalam dekap ayah dan ibu

Lagunya emang terkesan kurang cowok, tapi lagu ini nggak menye-menye macam lagunya kangen band. Jika kamu penikmat musik pasti kamu menikmati musik ini, yang penuh kehangatan macam musik-musiknya Sigur Ros, tapi dengan aksen musik Indonesia (bukan karena pake Bahasa Indonesia). Se-metal apapun kamu, se-hardcore apapun kamu, jika berada situasi dimana kamu merasa down, dan butuh tempat untuk bersandar, pasti teringat mereka berdua.
Ok, well, tidak semua yang saya tulis itu benar di matamu. Tapi, itulah pendapatku. See ya.

1 komentar: